Jumat, 04 Mei 2018

Sebuah Kegagalan yang Akan jadi Pembelajaran

Selang dua  jam lalu , saya menjadi orang yang benar-benar gagal. Sampai sekarang pun masih nggak bisa nerima. Nggak tahu harus gimana. Bawannya mewek, menyalahkan diri sendiri tepatnya. Bahkan terbesit pikiran buruk bahwa semua ini tak adil.

Saya merasakan gagal yang luar biasa. Impian yang saya idam-idamkan seketika musnah setelah saya menatap lekat-lekat layar di ponsel. Bahkan, saya ulang-ulang masuk ke dalam akun itu. Tetap nggak berubah. Rasanya campur aduk, intinya saya gagal. Dan kegagalan ini yang membuat saya jatuh, hancur berkeping-keping harapan yang saya rajut. Entah, saya benar menjadi orang yang gagal.

Mungkin jika ada yang baca tulisan ini menganggap saya terlalu lebay. Mendramatisir keadaan. Iya, saya sadari. Namun hati kecil saya tetap tidak bisa nerima. Tetap tidak bisa menetralkan segela campur aduk perasaan yang saya rasa. 

Sebenarnya saya nggak ingin cerita lewat blog, takut malah memberikan konsumsi tulisan yang nggak baik. Nggak patut dibaca. Tapi, saya mau gimana lagi. Sepertinya hanya menulis di sini, saya dapat menumpahkan segalanya. Mau cerita ke temen bawaannya malah tambah mewek. Kalau nggak gitu, saya aja yang malas jelaskan satu persatu. Saya rasa, saya berada pada titik terendah. Kegagalan ini benar belum bisa saya terima dengan syukur.

Sepertinya saya terlalu banyak tingkah. Belum-belum, niat saya udah buruk.  Sepertinya Tuhan kasih saya banyak pelajaran di sini. Sebentar.... tetap aja saya nggak terima. Ya Tuhan, saya berusaha mentralkan segala rasa yang sedang saya rasakan saat ini.

Dari awal saya mengaktifkan blog ini kembali sebagai wujud mencurahkan isi hati seperti kali ini. Lega mencurahkan di sini,  walau tak ada solusi yang saya dapat. Nyatanya, sudah merasakan cukup mengutarakan segala isi hati tanpa rasa malu dan harus ditutupi. Percalah, saya juga golongan manusia yang nggak bisa berbicara sepenuhnya kepada orang lain. Entah itu malu, sebagai privasi, atau saya memang cukup enggan untuk berbagi, yang paling parah terkadang saya nggak ingin orang tahu kelemahan saya.

Saya nggak lolos seleksi S2 di salah satu perguruan negeri di Jawa Timur. Ini impian saya sejak lama, semenjak lepas dari S1 kemarin (2016). Tapi, Tuhan ngasih jalan lain untuk saya berhenti dulu buat lanjutin. Pun, orang tua belum mendukung karena masalah dana. Selama satu tahun saya kerja dulu. Niatnya mau ngumpulin uang, tapi ya gitu sirkulasi tabungan saya muter terus nggak ada ujung. Saya berambisi dari satu tahun itu, bahwa tahun berikutnya saya harus bisa kuliah lagi. Hingga saya merasakan kecewa bercampur marah, lagi-lagi di tahun berikutnya saya nggak bisa lanjut. Tetap, terkendala masalah biaya. Kenapa nggak ikut beasiswa? mungkin ini juga salah satu faktor kesalahan besar saya. Saya nggak mau berusaha lebih, saya nggak mau lebih memperjuangkan cita-cita saya.

Saya udah minder duluan kalau ikut beasiswa. Saya putuskan bahwa saya akan ikut beasiswa lain, yakni beasiswa yang dapat diikuti setelah saya keterima di perguruan tinggi. Intinya, saya kepengen dulu diterima di PTN karena saya berambisi akan hal itu. Hingga akhirnya di tahun ini, jujur ketika keinginan saya mulai sedikit luntur dan saya rada pesimis, kesempatan itu justru hadir. Keluarga bersedia menyekolahkan saya. Saya seneng bukan main, tapi di satu sisi takut. Nggak percaya juga....

Saya percaya akan campur tangan Tuhan. Pun, saya percaya apa yang kita tanam itu yang kita tuai.

Saya cenderung berfoya, saya lupa bersyukur bahwa saya sudah dikasih kesempatan sama Allah.

Selama hampir empat bulan lamanya, di saat saya menganggur saya justru nggak melakukan hal pasti untuk mewujudkan harapan saya. Enak-enakan di rumah, selapas bangun pagi beberes, tidur siang, sore berangkat kerja (bimbel). Begitu terus,  tanpa saya melakukan hal pasti untuk mewujudkan cita-cita saya, semisal belajar. Ya saya terlalu cuek, saya terbuai.

Sebenarnya Tuhan sudah memperingatkan saya bahwa, kehidupan ini nggak ada yang berjalan sesuai keinginan kita. Semua serba instan, nggak ada! Pasti perlu adanya sokongan usaha. Saya gagal di tes toefl pertama, benar saya merasakan syok luar biasa. Jujur saja, saya sangat jarang merasakan sebuah kegagalan (dalam arti mengikuti suatu tes). Saya panik, saya sedih. Kok  bisa saya nggak lolos? skore saya belum mencapai skore standar yang diinginkan PTN tempat saya mendaftar. Ternyata dibalik itu, memang usaha, kerja keras itu benar adanya. Baru  dua hari saya belajar mati-matian buat tes ulang. Saya niat, saya usahan sampai saya sering bedagang dan alhamdulillah berhasil. Jadi waktu empat bulan lamanya saya kemana aja?

Saya lengah kembali. Selang beberapa hari menjelang ujian, kerjaan saya hanya mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Alhasil saya melupakan, juga meremehkan hal-hal sederhana yang justru paling penting. Saya terlalu banyak melakukan hal yang sia-sia.

Kemudian saya terlalu percaya diri, saya bakal keterima. Dengan pede nya saya sudah merangkai banyak hal, intinya sombong di awal. Saya ingin pamer, bahwa nanti di hari raya ketika banyak tamu atau saudara yang bertanya kepada saya, saya akan jawab bahwa saya menjadi mahasiswa pascasarjanan. Kan niatnya udah nggak bener! tujuannya salah!!! salah besar!!

Saya terlalu mengkhawatirkan dan takut akan omongan orang. Pelabelan yang diberikan orang lain itu benar adanya, menakutkan. Kalau kita nggak kuat,  kita akan kalah dengan tuntutan mereka yang seharusnya nggak  kita penuhi. Mereka nggak berhak melabeli kita, bikin aturan bahwa orang ini harus segera menikah, hidup mapan itu ya PNS, terus kalau sekolah lagi kapan nikahnya?, kok sarjana cuma ngajar di bimbel aja!

Memang nggak ada habisnya omongan orang, tapi kalau kita tiap hari denger apa betah? apa justru makin kuat? saya bukan orang seperti itu. Jujur saya takut! takut akan hal ini.

Mata lelah, saya capek nangis. Saat ini saya nggak berhenti menyalahkan diri sendiri. Ya memang sepantasnya instropeksi diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar