Minggu, 20 Mei 2018

Menjadi Mental Anak Rumahan





Kesel sih sama perilaku jelek yang baru-baru ini malah makin kepupuk. Nggak baru-baru amat sih, tepatnya sejak memutuskan untuk resign dari tempat kerja. Sejak itu jadi nggak punya jadwal aktivitas pasti, waktu banyak dihabiskan di rumah. Kerjanya pun mulai sore hari (bimbel), jadi hampir setengah hari di rumah. Dan nggak ngapa-ngapain. Beberes, jaga toko, tapi lebih banyakan tidur siang. Hah, nggak faedah kan ya. Sebenarnya punya daftar produktif pribadi setiap hari, tapi nggak terlaksana. Antara akunya yang suka molor-molorin waktu dan bibit kemalasan makin menjalar.
Hal itulah yang menyebabkan mental anak rumahan di aku makin kepupuk. Karena banyak waktu dihabiskan di rumah, akibatnya aku jadi males keluar rumah. Males bersosialisasi dengan orang kecuali temen deket aku aja. Aku malah semakin membatasi berinteraksi dengan orang lain. Di tempat kerja misalnya, aku jarang ngobrol sama kawan kerja. Kalau urusan ngajar udah beres ya pulang aja. Sebenarnya masalah membatasi diri ini sudah timbul sejak aku kerja tahun lalu. Aku memang tak ingin terlalu kenal dengan  orang, dimaksudkan dekat. Sewajarnya saja berinteraksi. Lebih baik mempertahankan hubungan pertemanan yang ada daripada membuka diri untuk orang baru yang belum tentu dia ataupun kita paham satu sama lain.
Selain itu, aku jadi males banget buat keluar kalau nggak pengen-pengen banget dan nggak penting. Biasanya aku paling demen diajak jajan di luar, tapi ketika hati ini nggak ingin ya nggak bakal berangkat. Lebih baik menghabiskan waktu di rumah, ya walau belum tentu baik-baik gitu aktivitas di rumah. Monoton kan? tapi aku suka, aku nyaman di rumah, makin males deh keluar rumah. Kalau aku nggak kepengen ya nggak bakal mau keluar. Terkadang mau berangkat kerja aja males banget, bener males. Terkadang kalau ada jadwal dadakan dan akunya lagi males, aku nggak bakal terima. Nggak baik jangan ditiru.
Aku nggak nyangka juga sih perilaku buruk alias cemen ini nempel banget di aku. Kek nggak mau susah gitu, kek nggak mau aja ketemu dengan orang-orang baru (temen aja masih suka aku cuekin), pun nggak pengen aja keluar dari zona nyaman. Rasanya aku yang dulu, yang nggak bisa diem jadi terpuruk akannya. Curhatan ini sesadar-sadarnya sih, ngerti kalau hal ini nggak bisa dibiarin. Susah lo ngomongin diri sendiri daripada orang lain. Yang paling susah itu nasehatin diri sendiri. Apalagi kita nggak belajar berdamai dengan diri sendiri. Susah!
Semoga diriku yang berjiwa anak rumahan ini mulai bangkit. Semoga juga apa yang aku harapkan di pertengahan tahun ini mendapat ijabah dari Allah SWT. Mendapatkan ridho dari-Nya. Doanya diganti, yang awal semoga aku bisa, semoga apa yang aku minta terwujud diganti dengan semoga terbaik untuk diriku dan atas berkah Allah SWT.

Selamat menunaikan ibadah puasa temen-teman.

5 komentar:

  1. semangat saaay, semoga bisa keluar dari zona nyaman yang kurang baik ini :)

    BalasHapus
  2. ya Allah baru tahu mbak blogger cantik komentar 😊
    Mksh yaa mbak 😍 semngattt

    BalasHapus
  3. apapun itu pastilah ada titik jenuhnya, apalagi di rumah terus, yg tadinya selalu keluar kemudian situasi berubah 100%

    BalasHapus
  4. waahhh saya lagi ngalamin ini banget hehe dan belum nemu solusi

    BalasHapus
  5. Hai mbak Mei kita sehati hikss

    BalasHapus