Langsung ke konten utama

Melangkah untuk Lembaran Baru

Alhamdulillah ...

Oh ya, jika kalian pembaca mampir atau pembaca sengaja mampir, kalau kalian udah nggak ngeh sama tulisan ini boleh kok di-skip. Tulisan ini nggak akan jauh-jauh dari curhatan kemarin. Jadi mohon maaf aja pasti banyak curhat di blog ini. Jika kalian meminta lebih, boleh ke blog ku satunya. Eee tapi juga nggak jauh-jauh beda hehe. Cuma di sini lebih menye-menye aja. Selesai!

Aku nggak pernah ngerasa selega ini dari kejadian kemarin. Kemarin beban serasa masih nempel, nggak bisa lepas. Sampai semalam ada salah satu mimpi yang aku ingat, hingga sebangun dari tidur aku terkulai lemas. Tak sengaja juga meneteskan air mata. Yah, memang depannya aja udah sehat tapi hati sama pikiran nggak bisa bohong. Ya Allah, belajar ikhlas itu memang susah. Kudu dilatih!

Keputusan sudah aku ambil di hari kemarin juga. Jadi ini adalah bentuk nggak menyerahnya aku sama keadaan. Yah bismillah saja....

Dari dulu ketika aku punya harapan, aku memang berambisi untuk mewujudkannya. Jika kalian sempat tahu diriku di blog satunya, aku sangat gemar menuliskan semua harapanku pada salah satu note. Setiap tahunnya aku selalu bikin resolusi. Nggak hanya jangka panjang, pun jangka pendek juga. Di tahun kemarin mengajarkan banyak hal akan sebuah kehidupan. Pembelajaran hidup yang baru aku tempuh di usia menuju 25 tahun. Ketika sebelumnya hidup ku lempeng-lempeng aja. Nggak ada gejolak pasti yang menguras tenaga sampai pikiran. Di tahun kemarinlah proses menuju kedewasaan itu perlahan diasah oleh waktu, oleh skenario Tuhan. Jujur berat. Aku masih bisa jalan-jalan, aku masih doyan jajan, aku masih bisa nulis,  tapi satu yakni beban pikiranku semakin kompleks di usia-usia itu hingga sekarang. Kompleks!

Banyak hal yang nggak sesuai ekspetasiku, nggak sesuai dengan apa-apa yang sudah aku canangkan. Seperti pun kemarin, aku harus merima bahwa aku tidak diterima di perguruan tinggi yang aku impikan (pascasarjana). Ku benar-benar merasa gagal. Notabene sedari jenjang SD hingga perguruan tinggi aku nggak pernah ikut tes. Ibarat kata masuk sekolah dengan jalur mudah. Kalau nggak pakai  nilai Ujian Nasional ya pakai nilai rapor (SNMPTN udangan). Jadi aku nggak pernah tuh ngalamin yang namanya ujian, di saat itu yakni lima tahun lalu banyak teman-temanku bersaing dan berlomba-lomba ujian masuk PTN.

Mungkin itu, ketika aku merasakan gagal untuk pertama kalinya rasa sakitnya membekas. Sakit, kecewa, bahkan nggak terima. Semua hal memang nggak bisa selamanya didapetin mudah, ini salah satu ujian Tuhan yang harus aku lalui. Sebagai pembuktian bahwa aku mampun mengentaskan semuanya. Sebuah pembuktian bahwa aku salah satu manusia pilihan Tuhan yang tegar dan pantang menyerah akan himpitan. Sebenarnya aku sadar, namun untuk bertindak itu sulit. Untuk melangkah itu sulit.
Yah begitulah....

Ada sedikit cerita apa yang membuat aku sangat ingin masuk pasca. Semenjak S1 dulu aku sudah punya impian bahwa aku harus meneruskan pendidikan (S2). Nyatanya aku harus berhenti satu tahun, oke nggak apa sekaligus aku memang niat cari pengalaman. Bukannya aku nggak suka jadi guru, nggak menikmati sebagai seorang guru. Nyatanya passion aku hanya itu, mengajar. Dan sejuah ini aku sangat menikmati, bahkan senang. Tapi impianku tetap, bahwa aku ingin jadi seorang dosen. Nggak berubag! Yah sama-sama pendidik, namun di jenjang berbeda.

Alasan lain, sepertinya ini sangat memotivasi keinginanku. Aku ingin menjunjung martabat keluarga, orang tua. Jika kalian berujar, jangan mencari kedudukan di mata manusia. Ya saya tahu, bahwa akan baiknya mencari pengakuan hanya di mata Allah. Bukan demikian. Jujur, dengan badanku yang kecil yah pendek. Aku ingin membuktikan kepada semua orang bahwa aku lebih bisa dilihat daripada fisik. Sering aku mendengar ocehan sana-sini dengan fisikku. Intinya begitu. Pun , aku ingin menjadi wanita berpendidikan. Aku masih haus akan ilmu, aku masih ingin mengejar mimpiku. Yah begitulah, mungkin di antara kalian ada yang berbeda prinsip dengannku. Tak masalah, itu hal wajar.

Di hari ini aku berjanji akan diri ku sendiri, bahwa akan ada sebuah pembuktian. Mengapa aku tuliskan di sini, aku nggak bermaksud pamer toh aku juga belum sukses (sukses di mata masuia). Ini bagai sebuah pengingat, Bismillah. Dan untuk pertama kalinya apa-apa yang aku rasakan selama ini, yang menjadi cita bahkan pikiranku, aku utarakan kepada orang tua. Aku yang jarang bahkan nggak pernah bercerita (terbuka) dengan orang tuanya. Setidaknya mereka paham akan apa yang menjadi citaku. Kita rundingan bersama. Lega di awal yang aku utarakan adalah ketika aku dapat berbagi segala uneg-uneg kepada orang tuaku. Alhamdulillah mereka mendukungku. Memberi doa restu padaku, itu yang satu-satunya aku mau. Ridho orang tua.

Bismillah!!

Komentar

  1. hmmm aku kok pikir2 dulu ya kalau mau jadi dosen
    dulu pernah sih, terbersit keinginan jadi dosen daripada guru. soalnya aku pengen berbagi ilmu dengan anak2 yang sudah matang alias mahasiswa.

    terus semakin lama kupikiriin, hmm dosen ini jadwalnya nggak teratur. tiba2 bisa jadi hari sabtu ngajar. duh laaaah

    justru aku maunya malah jadi ibu rumah tangga, hahaha
    full time kerja di rumah, tapi kok kayaknya nggak mungkin ya, hehe

    Semangat kak Veeee
    💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang apa yang emang kita pikir enak pas dijalanin masih banyak ngeluhnya...
      hemm itu aku bangettt


      maskh ya dek :*

      Hapus
  2. Dulu juga mau jadi dosen, tapi sekarang lulus kuliah aja susah banget. Masih mikir bisa kerja sesuai dengan jurusan atau tidak, hal yang masih mengganjal dari beberapa bulan yang lalu.

    Mungkin tujuan saya jadi dosen itu sedikit berbeda, tapi sebenarnya hampir sama. Kalau soal fisik, sebenarnya saya tidak peduli kalau dikatain sama orang lain (oh juga karena saya tipikal balikin omongan ybs sih), tapi lebih ingin membuktikan diri kalau saya bisa membagikan sedikit ilmu kepada orang yang membutuhkan.

    Semangat ya kak, kalau memang jalannya pasti nanti bakalan ada cara untuk diterima kuliah ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alasannya juga sih sebagai pembuktian bahwa saya ini mampu. Pun ya sama sih ingin membagikan ilmu, karena saya juga masih haus akan ilmu. Jadi semenjak lulus buat sekolah lagi nggak makin luntur. Malah menjadi hehe #ah curhat...

      Nanti pasti teringat masa-masa skripsi, benar deh. Rindu masa jadi mahasiswa tingkat akhir. Sayang, aku dulu lupa kalau punya blog. Kalau iya sih kepengn nulis setiap kisah dan uneg skrispi kek kamu hehe


      maksh yaa :) semangat juga tugas akhirnya skrpsinya. Semoga lancar-lancar yaaa amiiin :)

      Hapus
  3. wah sama, sha aja sekarang mentok d3. Mau lanjut s1 udah dua tahunan ini teruuuus aja terhambat. Pas bulan2 kemaren bahkan sampe nangis saking pengennya huhuhuuu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketiga Blogger Ini Buatku Bertumbuh dan Berkembang

Sejak dua hari lalu diriku tenggelam dalam aktivitas blog walking . Udah lama sekali nggak berkunjung ke blog temen dan blog orang-orang baru yang akhirnya kutahu. Dari aktivitas BW ini aku  menyadari bahwa untuk mendapatkan energi baik itu bisa dari mana aja, ya dari tulisan temen-temen salah satunya. Apalagi makin betah BW dan bisa kepoin satu blog berlama-lama karena isinya curhat. Ya ngalir aja mereka menceritakan setiap momen hidupnya. Dan aku sendiri sebagai pembaca juga enak-enak aja bacanya alias menikmati. Heem ya inilah,  dapat energi baik dari cerita temen-temen di blog.  Seperti halnya dua hari lalu aku baru nemu blog milik Kak/Mbak Eno nih (duh sok kenal ye), Kek ngerasa telat banget nggak sih? baru tahu si empunya blog yang isi kediamannya tuh bisa bikin aku betah berlama-lama. Ini lagi tahap kepoin semua tulisannya, lagi bertahap. Mohon ijin sama yang punya rumah, eh sungkem dulu ya mbak. Terus dari situ juga aku ngerasa dapat energi baik buat ngelanjut...

Sebuah Kegagalan yang Akan jadi Pembelajaran

Selang dua  jam lalu , saya menjadi orang yang benar-benar gagal. Sampai sekarang pun masih nggak bisa nerima. Nggak tahu harus gimana. Bawannya mewek, menyalahkan diri sendiri tepatnya. Bahkan terbesit pikiran buruk bahwa semua ini tak adil. Saya merasakan gagal yang luar biasa. Impian yang saya idam-idamkan seketika musnah setelah saya menatap lekat-lekat layar di ponsel. Bahkan, saya ulang-ulang masuk ke dalam akun itu. Tetap nggak berubah. Rasanya campur aduk, intinya saya gagal. Dan kegagalan ini yang membuat saya jatuh, hancur berkeping-keping harapan yang saya rajut. Entah, saya benar menjadi orang yang gagal. Mungkin jika ada yang baca tulisan ini menganggap saya terlalu lebay. Mendramatisir keadaan. Iya, saya sadari. Namun hati kecil saya tetap tidak bisa nerima. Tetap tidak bisa menetralkan segela campur aduk perasaan yang saya rasa.  Sebenarnya saya nggak ingin cerita lewat blog, takut malah memberikan konsumsi tulisan yang nggak baik. Nggak patut dibaca. Tapi, s...

Aku Ingin Berkabar

Halo november! Kalau mau bilang sih, emang bener waktu berjalan begitu cepat. Menuju tahun 2025 aja udah mau sebulan lebih dikit. Vera pun mengunjungi blog ini juga kalau lagi inget doang, seperti pagi ini. Lagi-lagi, aku kangen menulis tapi untuk mewujudkan rasa rindu ini memang sangatlah sulit. Buktinya juga enggak nulis-nulis lagi. Cuma kangen-kangen doang tanpa direalisasikan. Sampai rasanya kagok bukan main, kek sekarang.  Apakah aku benar-benar sudah lama tidak menulis? Atau bahkan berhenti menulis? Entahlah, aku juga bingung menyebutnya bagaimana. Kalau dibilang berhenti menulis di blog sih gimana, emang udah sangat-sangat jarang. Maybe kek rasanya ke sini cuma setahun bisa diitung jari. Tuhkan bener! Hampir setahun yang lalu, tulisan terakhirku di agustus tahun lalu. Tapi, aku juga enggak benar-benar berhenti nuls di platform lain.  Aku sampai bikin akun instagram untuk menulis apapun random, yang enggak terlalu panjang. Ya niat awalnya biar tetep bisa nulis dan enggak...