Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Tanya

           Jika kau tanya padaku sekarang, apakah kau baik-baik saja? Tentu saja ku jawab   dengan cepat tidak . Apakah kau kecewa denganku? dengan tanggap juga ku jawab iya . Apakah kau masih mencintaiku? Ku jawab tanpa ragu iya . Apakah kau akan terus menantiku? dan dengan ragu ku jawab , aku tak tahu . Kau menyesal mengenalku? Ku jawab, aku tak pernah menyesal mengenalmu . Seberepa besar cintamu padaku? Entahlah, yang ku tahu cinta tak mengenal volume.   Apa yang kau sukai dariku? Sosokmu , dengan singkat saja aku utarakan. Apakah tak pernah jenuh menungguku? Buktinya sampai sekarang aku masih berada pada titik yang sama , jawabku kembali. Apakah kau yakin kita berjodoh? Entalah, Tuhan Maha Mengetahui . Apakah aku selalu kau sebut dalam doa? dan apakah tanya itu harus ku jawab?, sebaliknya aku bertanya padanya . Kau tak membenciku? Ingin tapi aku tak mampu . Apakah kau sedang terpuruk karenaku? ku jawab lanta...

Generasi Menunduk

        Se lamat siang penikmat kegalauanku, silahkan tertawa bahkan saya anjurkan prihatin atas kealay-an saya hehe. Untuk beberapa postingan saya sejak kemarin, sudah jelas terpampang nyata bahwa saya dalam keadaan tidak baik alias loro . Uduk loro jobo nanging jero (bukan sakit di diluar, tapi sakit di dalam) sakitnya tuh disini hehe.   Jangan pernah melupakan bahwa Allah lah yang memberi rasa sakit, senang, gundah, resah, bahkan bangga dalam tawa. Maka dari itu, tak ada kata menyerah dan pasrah pada keadaan. Yang perlu aku patri dalam-dalam sampai detik ini, aku masih inggin menikmati dunia ku yang menggila dan terlalu asyik untuk aku gores dengan mendramatisir ala kisah sinetron. Kali ini aku sedikit menemukan penangkal segala kerapuhanku ( ceileh ). Kali ini ijinkan seonggok daging yang sudah mulai menuai ini , berbagi esai menarik seputar gadget .            Siapa coba di era sekarang pada nggak pu...

BERIKAN AKU KANTUK TUHAN

Cinta? Bisakah untuk terkahir kali ini saja kau bisa bersahabat denganku. Baiklah padaku , ramahlah padaku. Huah benar-benar malam ini aku sukses dan luar biasa galau (ke- alayan ku muncul). Maafkan aku yang tak pernah memberikan tempat terindah untuk cintaku. Cinta yang selama ini aku tanam penuh keegoisan dan ambisi. Maafkan aku tak pernah menempatkanmu pada posisi cinta yang hakiki. Mungkin malam ini, detik ini, yah di awal tahun yang baru harus ku rajam rasa ini kuat-kuat. Agar ia merasakan sakit dan berhenti mencintai. Aku ingin berpikir jernih, disini yang salah bukanlah cinta, tetapi si penerima anugerah terindah Tuhan yaitu aku.             Apakah aku harus membencimu? Ya kali ini kau telah melimpahkan benih cintamu kepada orang lain. Sungguh luar biasa aku cemburu, ya aku tak menyangkal itu. Wah pelik sekali,aku bahkan belum sempat bernapas lega sejak kejadian kemarin malam. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin ungk...

Gerah

Huahhh, gerah sekali. Gerah hati , fiks !! Aku udah tegar, aku udah gg rapuh kayak jelly. Sudahlah aku tak akan lagi merajuk, galau, sedih, bahkan sampai menangis. Ijinkan kantuk bersahabat malam ini. Besok aku harus sekolah, besok harus rapat, besok harus pulang sore. Jika aku tak terpejam apa daya dengan mata pandaku, oh tidak. Sudah sudah, aku benar benar sudah legowo. Mau kamu sama siapa, aku menyerah kerena Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia. Aku gg akan nangis hanya kerena captionmu dengan segala api cintamu. Sungguh, pleace enyalah dari benakku. Benar aku sudah rela ok, tolong ku mohon menjauhlah bayangmu. Kau mungkin bersamanya, tapi bayangmu membututiku. Oh Tuhan, hilangkanlah dia sungguh aku hanya ingin tidur malam ini. Aku tak kan menguluh pada mu Tuhan, aku janji hatiku tak kan meronta. Dia sudah bahagia,jadi biarkan aku kembali menggila dengan dunia ku yang mengasyikkan.

Enggan Berucap Walau Satu Kata

Aku menengadah ketika langit berkata, Malam ini tak banyak bintang yang menemaniku . Sunyi bersahabatkan dengan dingin, dan berteman dengan suara jangkrik. Ya, mereka bernyanyi mengisyaratkan akan malam yang panjang. Beberapa menit lalu aku terdiam dan berpangku tangan di depan leptopku. Leptopku berisik sekali karena alunan musik yang aku putar dengan volume agak keras. Alunannya tak mampu mengusikku dari lamunan. Masih soal Bapak, ya Bapakku. Sejak pertemuan semalam raga dan pikiran ini sedikit terfokus padanya. Melankolis sekali, tadi pagi pemandangan di depan ku sukses membuatku baper. Ya Baper bahasa yang lagi ngetren saat ini. Ketika aku melihat seorang laki-laki paruh baya pasti pikiranku akan tertuju pada sosok Bapakku. Ah enyahlah, aku sedang ingin fokus. Hari ini adalah hari dimana aku harus berkutat kembali dengan realita. Tahun ajaran baru sama dengan menguras tenanga dan pikiran, dan aku tak ingin ada sedikit luka yang merusaknya.      ...