Langsung ke konten utama

Semangkok Cilot Pelepas Rindu



           SMA masa yang menyenangkan bukan? Ya nggak ? masa dimana banyak mengukir kisah-kisah klasik putih abu-abu. Hitam aja nggak, apalagi putih. Kalau bisa dibilang SMA adalah masa dimana pencarian jati diri kita benar-benar diuji. Kalian mengalami masa dimana sering dihukum guru? gara-gara ketahuan bawa hp kamera, mainan hp di kelas, kejar-kejar sama tatib saat razia entah rambut, nggak pakai dasi, atribut seragam yang nggak lengkap, rambut cowok-cowok yang pada gondrong, kepergok pacaran di kelas, bolos sekolah, ngrokok di sekolah, kebut-kebutan di jalan, sok jadi jagoan, nyontek, hingga yang paling parah ngerjain guru. Wih super sekali ya.
            Kali ini aku akan mengisahkan salah satu tempat favoritku saat SMA. Tempat dimana aku bisa gosip sesukanya, makan dengan meninggalkan bon hutang, ngoceh sana-sana dengan suara keras tanpa takut ditegor guru, sampai beristirahat berteman dengan semilir angin yang berhembus. Tempatnya sih bukan di lingkungan sekolah, namun tempat di depan SMA ku dulu. Tempat nongkrong asyik tanpa celah. Ya ku katakan tanpa celah, karena aku akan betah berlama-lama berghibah disana hahaha (bukan seperti itu). Tempat nongkrong murah, ala anak SMA yang kalian tahu sendiri lah uang saku nggak gedhe-gedhe amat cukup lah buat beli nasi pecel dan es teh hehe. Dan lebih menggugah lagi, bisa ngutang. Bisa nimbun bon disana, tanpa sungkan (haha jangan ditiru).
            Dikenal dengan Cilot Khasannah, Ibu Khasannah adalah pemilik kafe tersebut. Ya aku bilang kafe aja biar nggak kalah sama tempat hits lainnya hoho. Ya walau dikata tempatnya mewah alias mepet sawah, tapi sensansinya bikin berr lah (aku mulai mendayu). Tempatnya hanya beratapkan atap seadanya, bangunan permanen, dengan bambu penyangganya, serta meja-meja lesehan tampat kita nongkrong (ntapss banget lah). Terkesan sederhana bukan. Menjajakan cilot , tahu cilot kan ? makanan perpaduan dari daging dan tepung udah jadi menu andalan disana. Murah sih ya, tapi tak ubahnya aku yang suka ngebon haha. Ibuknya asyik mah cuek-cuek aja, selama nulis hutang di catatan gedhenya (mirip banget buku mak-mak).
           Ibuk sering kita ajak gosip cin, sering kita ajak alay, sering kita ajakin dandan (walau dulu belum kenal gincu). Ibuk udah kayak ibu kandung sendiri, suka kasih nasihat, suka kasih jajan gratis haha, perhatian banget deh. Jadi, betah banget berlama-lama sampek mulut berbusa. Ya ibuk sering jadi tempat curhat, obat galau, obat ghibah, dan sering juga bagi ilmu-ilmu secara nggak langsung. Dan sampai sekarang pun, aku dan kawan-kawanku tetap sering berkunjung kesana. Bahkan kita sering bawa oleh-oleh buat ibu atau sekedar mampir bertanyan kabar dan melepas rindu dengannya. Seperti sore juga, rindu udah jadi kebutuhan utama. Rindu harus segera diobati dengan saling menatap, merangkul, dan bercanda.
            Setiap kali datang, aku mah selalu heboh teriak-teriak. Ku ceritakan semua yang ingin aku ceritakan dan ibuk pun sering bertanya-tanya bagaimana keadaan ku bla bla. Perhatian banget deh, sampai nanyain kapan nikah? Aku diem aja, sambil cengenges-cengenges (senyum-senyum kecil). Kalu udah ngomongin kayak gitu, selalau saja aku alihkan dengan kegilaan ku. Tahu sendiri aku nggak pernah waras kalau masalah cinta bihhh. Ya tentunya ditemani dengan semangkok cilot dan sempol nikmat. Sehat-sehat terus ya ibuk. 

Komentar

  1. Berapa nih harga 1 porsinya ? Rekomended gk nih ? Atau cuma tempat gosip emak-emak HitsZ ....

    BalasHapus
  2. Udah tercantum tuh murah lah 😂

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketiga Blogger Ini Buatku Bertumbuh dan Berkembang

Sejak dua hari lalu diriku tenggelam dalam aktivitas blog walking . Udah lama sekali nggak berkunjung ke blog temen dan blog orang-orang baru yang akhirnya kutahu. Dari aktivitas BW ini aku  menyadari bahwa untuk mendapatkan energi baik itu bisa dari mana aja, ya dari tulisan temen-temen salah satunya. Apalagi makin betah BW dan bisa kepoin satu blog berlama-lama karena isinya curhat. Ya ngalir aja mereka menceritakan setiap momen hidupnya. Dan aku sendiri sebagai pembaca juga enak-enak aja bacanya alias menikmati. Heem ya inilah,  dapat energi baik dari cerita temen-temen di blog.  Seperti halnya dua hari lalu aku baru nemu blog milik Kak/Mbak Eno nih (duh sok kenal ye), Kek ngerasa telat banget nggak sih? baru tahu si empunya blog yang isi kediamannya tuh bisa bikin aku betah berlama-lama. Ini lagi tahap kepoin semua tulisannya, lagi bertahap. Mohon ijin sama yang punya rumah, eh sungkem dulu ya mbak. Terus dari situ juga aku ngerasa dapat energi baik buat ngelanjut...

Hari Ini Bercerita

  Awalnya sih enggak kepengen nulis, tapi karena kebetulan buka laptop yaudahlah ya sekalian! Sekalian menumpahkan unek-unek di hati dan pikiran karena dah lumayan penuh ya bund!  Salah satunya nih! Tadi di sekolah aku dapat celetukan gini “Jangan Bu, jangan mau jadi mertuanya Bu Vera! Nanti apa-apa ditulis di sosmed, kan suka curhat di sosmed dia!” Dan apa reaksiku? Langsung berubah mukaku, lebih syok gitu! Tahan-tahan mukanya jangan kelihatan sakit hatinya, batinku. Huaaa langsung down seketika itu juga. Langsung tetiba nyalahin diri sendiri dan bergumam dalam hati mengiyakan “Mana aku suka curhat lagi di twitter!” “Salah ya?” Tetiba runtuh aja. Kek mau nampelin omongannya tuh enggak ada daya, tapi kalau diem kerasa banget sakit hatinya. Huaaaa!!!  Memang hampir setiap hari aku bakalan nulis apapun di twitter. Memang bener kata orang-orang tuh, si twitter tuh tempatnya sambat. Enggak tahu kenapa aku lebih bisa jujur di sana. Lebih nyaman cerita dan tentunya sambat....

Keputusan Terbaik untuk Kembali ke Dunia Bloger

  Memutuskan untuk menulis di blog merupakan satu dari keputusan di hidupku yang aku syukuri. Sudah lama ingin aktif kembali di dunia blogger ini. Setelah setahun lebih aku hanya fokus dengan agenda menulisku di platform lain bahkan porsi terbesarku menulis untuk sebuah pekerjaan. Padahal dulunya aku sering menuliskan hal apapun di blog. Apa yang aku suka dan gemari, ulasan (pribadi dan pekerjaan) pengalamanku, bahkan sampai curhatan.  Bahkan aku menerima beberapa pekerjaan lewat blogku setelah aku mulai aktif dan menekuninya di tahun 2017 an. Sungguh sayang blog yang aku bangun dan rawat dari tahun itu terpaksa harus hangus. Bahkan pula aku berikan tempat bernaung yang layak. Teringat, aku menyisihkan uangku dari hasil nulis artikel di media traveling lokal untuk membeli domain. Memang enggak murah, tapi aku masih ingat betul rasanya. Puas banget bisa memberi rumah blogku kala iti dengan jerih payah dari nulis juga. Setiap tahunnya pun aku masih rajin memperpanjang domain....