Langsung ke konten utama

Aku Dan Amarah

Pernah ngalamin kesel nggak?, misalnya udah bad mood ketiban tangga duh rasanya mangkel luar binasa yak. Sah-sah aja kalian bersikap seperti itu,manusiawi lah. Tapi perlu kita antisipasi loh, rugi buat kita dan tentunya orang lain. Pikiran kita jadi nggak rasional, udah panas mendidih, dan juga bakal nyakitin perasaan orang lain yang kena semprot kita tanpa sengaja. Ya seperti kisahku beberapa malam yang lalu.Ya sumpah aja, aku sendiri sempat mengutuk dengan kelakuan kenak-kanakku yang semakin hari nggak semakin berkurang malah nambah. Sekedar sharing aja ya gaes semoga menjadi pembelajaran buat kita semua.
Ceritanya malam itu,entah awal kejadiannya seperti apa. Tiap hari memang aku pulang ngajar udah sore selapas asyar. Hujan tak pernah absen guyur setiap sore secara otomatis aku harus selalu memakai jubbah mantelku. Sampek rumah udah basahan-basahan,akunya malah malah malas mandi (padahal dingin). Udah istrihat beberapa saat sampai akhirnya bedug magrib udah menyeruak aku segera mandi dan bersiap buat bimbel. Ya kegiatanku selepas magrib memberikan tambahan pelajaran untuk keponakan dan tetangga terdekat. Apalagi pekan UAS kayak gini, aku harus ekstra untuk mereka. Lelah juga privat dari 8 murid ku malam ini, ditambah aku juga harus belajar matematika (karena aku paling lemah di pelajaran ini). Memang kebanyakan dari mereka masih sulit dalam berhitung (sama lah), jadi harus ekstra banget. Dah ya terlalu banyak yang udah melenceng dari topik.
Selepas bimbel, perutku udah keroncongan minta ampun. Semua kerasa jadi satu, mulai dari lapar, ngantuk, dan harus mengerjakan tugas dari sekolah. Ya Tuhan aku udah mengeluh beberapa kali. Karena rumahku bukan di kota, suasana desa banget jam 8 semua udah pada tidur. Nah nggak tahu kenapa akunya sebel banget, ketika hari masih sore kayak gini orang-orang rumah pada tidur. Duh, wes pokok e akeh sambat. Aku mangan opo iki? Buka kulkas isinya ya gitu-gitu aja.Hanya botol air munum yang memenuhi,  yang paling mencolok ya warna cabai di kulkas. Langsung males dan muak rasanya. Dah habis itu,aku buka leptoplah mencoba mengerjakan tugas sekolah. Tugas ini udah aku tunda sampai si guruku nagih puluhan kali. Eelah dalah Ya Tuhan leptop ku ngambek ngamuk maneh, bih rasane ngempet.
Tahukan awal semua dari kekesalanku?? Kesemuanya itu akhirya terlampiaskan sudah agara-gara kaos kaki. Ya tragedy kaos kaki di situasi yang tidak tepat. Kenapa bigitu? Simak kelanjutannya. Sembari menunggu leptop ku sadar, aku masuk kamar dan aku melihat banyak banget jemuran-jemuran di atas tempat tidur. Ya udahlah aku pindah,dan kalian tahu? Aku milihat kaos kakiku kok hanya ada satu?yang satu mana? Habis itu entah setan apa aku langsung marah. Dari kolong kasur, jemuran, kamar madi dan sudut-sudut rumah udah tak jelajahi. Tapi, kaos kakiku nggak ketemu. Entah masalah sepele seperti ini malah membuat marahku memuncak. Dan yang jadi sasaran adalah nenekku sendiri, aku marah-marah, ngedumel reno-reno. Makane to lek ngentasi ki diteliti, bih seng ndekekne sopo to, dan beh beh yang lain. Nenekku beranjak dan segera mencari pasangan kaos kaki itu, sama kayak aku nyari dari berbagai sudut dan nggak ketemu.Ya Tuhan, aku malah tambah marah sumpah, udah nggak bisa dibendung. Aku ngambek dan dongkol banget. Nenekku pun saking nggak bisa berkata dan jelasin lagi, beliau milih diam. Aku pun mulai menyalakan mp3, diam dengan keadaan marah.
Untuk beberapa saat amarahku belum juga merada, hingg aku mulai terdiam dengan lagu yang aku matikan.Ya Tuhan, apa yang aku perbuat . masalah sekecil ini harus jadi amarahku yang luas biasa. Aku mulai mengutuk tingkah lakuku, udah dengan disengaja melukai hati neneku dengan kata-kata yang tak pantas. Aku udah tambah lapar karena marah-marah, dan tugasku akhirnya tak aku sentuh sedikitpun. Nah kan akibatnya udah panjang kayak gini. Hingga esoknya aku pulang dari sekolah, koas kaki ku udah sepasang. Tambah miris dan menyesal bertubi-tubi.
Nah dari kesemuanya itu, aku sendiri telah belajar bagaimana ketika emosi telah menguasi diri ketika kita tak mampu mengontrolnya lebih baik kita diam saja. Karena kalau sudah marah, kata yang keluar udah jelek semua. Bagaiamana amarah malah nambah beban, nambah masalah baru lagi. Jadi sebisa mungkin, lakukanlah sesuatu yang dapat merendam amarahmu. Dari pelajaran yang sering kita tahu, berwudhulah atau sholat dengan gitu hati kita lebih tenang. atau kalau nggak gitu, lakuin hal menjadi kesukaanmu seperti nonton, baca buku, atau malah tidur. Semoga aku dan kalian selalu menjadi pribadi yang ramah dan mampu mengendalikan amarah. Karena musuh terbesar kita adalah kita sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bertegur Sapa setelah Sekian Lama

  Mari kita buka lembaran baru!  Siang ini aku sedang berada di kedai kopi langgananku. Hampir setiap hari ke sini. Kalau ke sini pesannya itu-itu mulu, jarang ganti! Selain males mikir mau pesan apa, udah cocok sama menu itu aja. Cuma siang ini aku pesan menu yang udah lama banget enggak aku pesan. Ini pun dah lama banget enggak pesen si kopi satu ini. Beberapa waktu lalu suka pesen menu kopi ini untuk temen melek sih. Yap! Siang ini aku pesan es kopi hitam atau black coffee ice. Ide terbesit ketika berada di kendaraan mikir pen seger-seger gitu. Yaudah pesen ini aja!  Oke kembali ke pernyataan awalku, "Mari kita buka lembaran baru!" Tepatnya sih "aku". Setelah setahun lebih enggak ngeblog, aku mulai dengan tulisan pendek ini ya! Aku memutuskan untuk ngeblog di tempat lain atau di sini ya? Ketika tulisan ini aku buat, aku masih bingung mau unggah di mana. Blogku berdomain sudah hangus sejak tahun lalu. Ketika aku memutuskan untuk enggak memperpanjang domain.  Yap! ...

Sebuah Kegagalan yang Akan jadi Pembelajaran

Selang dua  jam lalu , saya menjadi orang yang benar-benar gagal. Sampai sekarang pun masih nggak bisa nerima. Nggak tahu harus gimana. Bawannya mewek, menyalahkan diri sendiri tepatnya. Bahkan terbesit pikiran buruk bahwa semua ini tak adil. Saya merasakan gagal yang luar biasa. Impian yang saya idam-idamkan seketika musnah setelah saya menatap lekat-lekat layar di ponsel. Bahkan, saya ulang-ulang masuk ke dalam akun itu. Tetap nggak berubah. Rasanya campur aduk, intinya saya gagal. Dan kegagalan ini yang membuat saya jatuh, hancur berkeping-keping harapan yang saya rajut. Entah, saya benar menjadi orang yang gagal. Mungkin jika ada yang baca tulisan ini menganggap saya terlalu lebay. Mendramatisir keadaan. Iya, saya sadari. Namun hati kecil saya tetap tidak bisa nerima. Tetap tidak bisa menetralkan segela campur aduk perasaan yang saya rasa.  Sebenarnya saya nggak ingin cerita lewat blog, takut malah memberikan konsumsi tulisan yang nggak baik. Nggak patut dibaca. Tapi, s...

Aku Ingin Berkabar

Halo november! Kalau mau bilang sih, emang bener waktu berjalan begitu cepat. Menuju tahun 2025 aja udah mau sebulan lebih dikit. Vera pun mengunjungi blog ini juga kalau lagi inget doang, seperti pagi ini. Lagi-lagi, aku kangen menulis tapi untuk mewujudkan rasa rindu ini memang sangatlah sulit. Buktinya juga enggak nulis-nulis lagi. Cuma kangen-kangen doang tanpa direalisasikan. Sampai rasanya kagok bukan main, kek sekarang.  Apakah aku benar-benar sudah lama tidak menulis? Atau bahkan berhenti menulis? Entahlah, aku juga bingung menyebutnya bagaimana. Kalau dibilang berhenti menulis di blog sih gimana, emang udah sangat-sangat jarang. Maybe kek rasanya ke sini cuma setahun bisa diitung jari. Tuhkan bener! Hampir setahun yang lalu, tulisan terakhirku di agustus tahun lalu. Tapi, aku juga enggak benar-benar berhenti nuls di platform lain.  Aku sampai bikin akun instagram untuk menulis apapun random, yang enggak terlalu panjang. Ya niat awalnya biar tetep bisa nulis dan enggak...